Penulis Tamu

THE MEANING OF ISLAM

Oleh : Qulhairi bin Abdullah As-Salam
(Alumni PP Persis Abu Hurairah sekarang Menetap di Bandung)

Secara lugoh (etimologi), lafadl/kata ISLAM itu adalah masdar (sumber pusat) kata yang darinya melahirkan sigoh/pola kalimat yang lain. Dan pada dasarnya, lafadl terdiri dari tiga huruf, yaitu: sa-li-ma (untuk menunjukkan kata kerja/perbuatan yang telah terjadi), dari tiga huruf ini, kemudian melahirkan bentuk kata; sa-la-ma-tan. Kita perhatikan kronologis akar katanya berikut ini.
Sa-li-ma (bentuk kata kerja lampau) maknanya: telah selamat, bahagia, sejahtera, sentosa, tenang, damai, tentram, dan terhindar dari marabahaya.
Yas-la-mu (kata kerja yang menunjukkan sedang/akan), dari sini akan melahirkan makna: sedang/akan bahagia, selamat, sedang menikmati kedamaian, ketentraman, ketenangan, kesejahteraan, dst.
Sala-matan (sigoh/bentuk masdar) maknanya: halnya selamat, dalam keadaan bahagia, sejahtera, sentosa, tenang, damai, tentram, dst.
Bagi orang yang menginginkan keselamatan, kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan hidup dalam kehidupannya, maka harus meleburkan dirinya, sebuah keniscayaan untuk mensyibgoh/mencelupkan warna hidupnya dengan islam. Dan islam itu dibangun diatas NIDZOM (sistem yang mengatur hidup), mutlak memasukkan dirinya secara totalitas, memasrahkan dirinya serta merelakan sepenuh dirinya tunduk-patuh dan taat kepada sistem aturan islam (nidzomul islam), dusturul islam (pedoman islam), manhajul islam (sistem panduan spesifik dalam format undang-undang formal-normatif dalam bingkai syariat islam) adalah hukum kausalitas bagi orang yang mendambakan ketentraman dan kedamaian hidup yang abadi, dunia-akhirat. Dalam interaksi sosial bermasyarakat kerap kali terngiang akrab ditelinga, orang-orang berbicara tentang ‘ISLAM’, tapi sangat disayangkan, penjelasan integral, komprehensif dan universal tentang islam, lagi lagi sulit kita temukan, seolah-olah fenomena ini memperjelas apa yang disabdakan rasulullah saw, ’suatu saat islam hanya tinggal nama’, apa lagi kalau muncul pertanyaan, apakah ta’abbudiyah (amalan ibadah) yang kita kerjakan bersumber dari islam, dengan kata lain perintah Allah dan rasul-Nya. Bagaimana bisa dijamin, sementara gambaran yang utuh dan otentik tentang ‘Islam dan Syariatnya’ nyaris sirna dari harapan, bagaikan punduk rindukan bulan, akan tetapi tidak mustahil suatu saat masa penantian itu segera berakhir. Tatkala kita mulai menemukan jawabannya dari pertanyaan diatas, bukan hal yang aneh kalau sebagian besar umat islam merasa asing, aneh, risih, dianggap sesuatu yang baru terkait dengan islam yang kita jelaskan kepada mereka. Padahal kelompok mutafaqquh fiddin (orang-orang yang mengkhususkan diri memperdalam agama) tidak berbicara kecuali dengan dalil, tidak berargumen kecuali dengan hujjah qot’iyah atau argumentasi aksiomatik, luas serta dalam pengetahuan mereka, lalu kenapa penjelasan, keterangan, uraian, pandangan dan buah pikiran mereka terasa aneh dan asing ditelinga umat islam itu sendiri. Maka jawabannya adalah selain seperti yang disabdakan rasulullah saw empat belas abad silam ”Sesungguhnya islam itu berawal dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana awalnya. Maka kebahagiaanlah bagi orang-orang yang asing“. Jabir bin Abdullah bertanya, ”Siapa mereka wahai rasulullah?” beliau menjawab, ”orang-orang yang baik selagi manusia rusak. Ada faktor lain yang menjadi penyebab asingnya eksistensi dan persepsi kelompok minoritas mutafaqquh fid-din ditengah mayoritas internalnya. Pertama, kaum muslim tidak mendapatkan penjelasan yang langsung dikaji dan dimutola’ah dari sumber refrensinya (kitab-kitab para ulama salaf yang terkait dengan Alqur’an dan tafsirnya, fiqih dan usul fiqihnya maupun kitab-kitab hadis, mustholah hadis dan syarah(keterangan) hadisnya. Kedua, minimnya girah/semangat untuk belajar ilmu-ilmu alatnya (seperti nuhwu-shorof/gramatika bahasa arab, ilmu balagoh, mantik, dan usul fiqih). Ketiga, menjadikan referensi sekunder sebagai literatur primer (seperti buku-buku terjemahan). Keempat, membatasi diri dalam rujukan literatur tertentu (seperti sandaran pada satu mazhab, yang akibatnya studi komparatif terhadap kitab-kitab hadis atau kitab-kitab fiqih karya para ulama, menjadi terabaikan serta menjadikan ilmu-ilmu alat yang sudah dipelajari sebagai teori dan hafalan semata). Kelima, masih terkesan bahwa kajian-kajian kitab terformalisasi waktu dan tempatnya (seperti hanya mereka yang di pesantren yang akibatnya, kaum muslimin di luar mereka seolah-olah melepaskan diri dan menyerahkan urusan itu semuanya dan implikasi dari semua itu adalah jangankan tendensi untuk tertarik mempelajarinya, melihat/mendengarnya saja tidak). Keenam, minimnya SDM (Sumber Daya Manusia) nya dalam mensosialisasikan kepada umat. Itulah substansi yang meng-ilhami risalah ini. Agar pemahaman kerangka berpikir kita utuh dan sempurna dalam memahami Al-islam, kita tela’ah juga ISLAM menurut istilah. Secara terminologi (istilah); adalah ketundukan (khudu’) kepada wahyu ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul, khususnya Muhammad saw sebagai hukum allah, yang membimbing umat manusia ke jalan yang lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ekspresi ma’na Islam dalam bentuk skema:

Ma’na al-Islam (pengertian al-Islam):
1. Salima: akan melahirkan ketenangan hidup
2. Al-islam: berpegang atas dasar nizhomul islam
3. Aslama: meleburkan diri pada aturannya
4. Istaslama: siap menerima resiko apapun sebagai konsekuensi keta’atan
5. Sala-m: membuahkan keselamatan hidup dunia dan akhirat
6. Sali-m: manusia yang mempersiapkan dirinya diatur oleh sistem islam akan merasakan bahwa dirinya akan selamat dengan sistem yang dianutnya
7. Sullam: tangga; sebagai gambaran bahwa seorang muslim itu akan berangsur-angsur meraih kehormatan dan kedudukan yang tinggi paralel dengan tingkat pengamalan islamnya dan kekokohan imannya

Itla-qu kalimatil isla-m: inilah sendi-sendi muara islam
1. Al-wahyu al-ilahi: bermuara pada dustur (alqur’an dan hadist)
2. Dinul–anbiya wal mursalin: bersendi kepada agama yang pernah dianut oleh para nabi dan rasul terdahulu
3. Manha-jul hayah: memiliki sistem hidup yang relevan dengan kebutuhan manusia
4. Shirotul mustaqim: membimbing ke jalan lurus yang diridhoi
5. Sala-matud din wal akhiroh: petunjuk keselamatan dan kebahagiaan dunia-akhirat
6. Ahka-mullah fi kita-bihi wa sunnati rasulih: harus tunduk kepada hukum-hukum allah dan sunnah rasulNya yang termaktub dalam alqur’an dan alhadist. Terdiri atas:
a. Dinul haq: pengakuan bahwa islam adalah agama haq benar adanya dari allah
b. Dinullah: agama allah yang tidak ada tara tandingannya
c. Dinul islam: satu satunya agama yang mengantarkan penganut dan pengikutnya pada wahana dan ranah kebahagiaan yang kekal


Kalau ini kita sadari dengan baik dipahami dengan benar, maka pada gilirannya akan terbangun sebuah konsep berpikir pada pribadi setiap insan sebagaimana yang tertoreh dalam untaian hadis ”Al-isla-mu ya’lu wala yu’la ‘alaih“. (Din) islam itu tinggi dan tidak ada yang menandingi ketinggiannya.
Demikian sekelumit uraian ringkas tentang ma’na Islam, semoga bermanfaat bagi penulis dan para pembaca yang budiman. Tak ada gading yang tak retak, kesempurnaan milik allah semata. Wallahu a’lam bissowab.